Asal Usul Obat

Jaman dahulu, pengobatan terhadap penyakit seringkali dilakukan dengan cara-cara spiritual dan mistis. Doa kepada leluhur atau kepada dewa, atau kepada siapapun yang mereka percayai dapat memberi kesembuhan. Mereka tidak dapat tahu secara pasti apa penyebab suatu penyakit, sehingga pengobatan jaman dulu didasarkan atas kepercayaan pada roh-roh dan kekuatan lainnya. Mereka meramu berbagai macam bahan dari tanaman atau hewan dengan cara yang sangat tradisional. Bahan bahan obat tersebut bisa terlebih dahulu direbus, digiling halus atau cara cara lain yang konvensional. Hasil rebusan atau gilingan bahan obat tersebut diberikan kepada penderita sakit baik diminumkan atau dioleskan disertai dengan kegiatan kegiatan mistik berdasarkan kepercayaan pada waktu itu.

Karena manusia adalah mahluk yang belajar, seiring dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, lambat laun tradisi konvensional ini mulai ditinggalkan. Cara cara sederhana seperti penggunaan bahan bahan alami tanaman dan hewan yang direbus atau digiling tetap masih dipakai, namun tidak lagi dihubung hubungkan dengan mistik.

Obat yang pertama digunakan adalah obat yang berasal dari tanaman yang di kenal dengan  sebutan obat tradisional (jamu). Obat-obat nabati ini di gunakan sebagai rebusan atau ekstrak dengan aktivitas yang seringkali berbeda-beda tergantung dari asal tanaman dan cara pembuatannya

Hal ini dianggap kurang memuaskan, maka lambat laun ahli-ahli kimia mulai mencoba mengisolasi zat-zat aktif  yang terkandung dalam tanaman – tanaman sehingga menghasilkan serangkaian zat – zat kimia sebagai obat.

Yang di maksud dengan obat ialah semua zat baik kimiawi, hewani maupun nabati, yang dalam dosis layak dapat menyembuhkan, meringankan atau mencegah penyakit berikut   gejala-gejalanya.

Kita mengenal Hippocrates (459-370 SM),  bapak kedokteran yang pada praktek pengobatannya telah menggunakan lebih dari 200 jenis tumbuhan. Juga ada, Ibnu Sina (980-1037) yang telah menulis buku tentang metode pengumpulan dan penyimpanan tumbuhan obat serta cara pembuatan sediaan obat. Kemudian Paracelsus (1541-1493 SM) yang telah mencoba membuat obat obatan dari bahan hasil penelitiannya. Masih banyak ilmuan ilmuan lain seperti Johann Jakob Wepfer (1620-1695), Oswald Schiedeberg (1838- 1921) yang terus berupaya mengembangkan dan menemukan obat obat baru.

Pada tahun 1804, F.W.Sertuerner (1783- 1841) mempelopori isolasi zat aktif dan memurnikannya dan secara terpisah dilakukan sintesis secara kimia. Sejak saat itu mulai berkembang obat sintetik untuk berbagai jenis penyakit.

Pada permulaan abad XX mulailah dibuat obat – obat sintesis, misalnya asetosal,  di susul kemudian dengan sejumlah zat-zat lainnya. Pendobrakan sejati baru tercapai dengan penemuan dan penggunaan obat-obat kemoterapeutik sulfanilamid (1935) dan penisillin (1940). Sejak tahun 1945 ilmu kimia,  fisika dan kedokteran berkembang dengan pesat dan hal ini menguntungkan sekali bagi penyelidikan yang  sistematis dari obat-obat baru.

Penemuan-penemuan baru menghasilkan lebih dari 500 macam obat setiap tahunnya, sehingga obat-obat kuno semakin terdesak oleh obat-obat baru. Kebanyakan obat-obat yang kini digunakan di temukan sekitar 20 tahun yang lalu, sedangkan obat-obat kuno di tinggalkan dan diganti dengan obat modern tersebut.

Pengetahuan tentang obat dan seluruh aspeknya, baik secara kimiawi maupun fisikanya, kegiatan fisiologi, resorpsi, dan nasibnya dalam organisme hidup dipelajari dalam sebuah ilmu yang bernama Farmakologi atau ilmu khasiat obat, yang akan kita bahas di lain kesempatan…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s