Asal Usul Apotek

Jaman sekarang, kita melihat apotek di mana-mana… Apotek Gravita Farma hanyalah satu di antara banyaaaak apotek yang ada di kota Bandung, dan tentunya satu di antara banyaaak apotek di Indonesia.

Sebagai orang awam, kita melihat ada banyak jenis apotek di Indonesia, mulai dari milik perorangan, Apotek 24 jam, hingga apotek franchise dari luar negeri yang banyak terdapat di mall dan bandara.

Apotek berasal dari bahasa Belanda Apotheek, yang menurut KBBI berarti

toko tempat meramu dan menjual obat berdasarkan resep dokter serta memperdagangkan barang medis; rumah obat

Atau berasal dari bahasa Yunani apotheca yang berarti “penyimpanan”.

Apotek juga merupakan tempat apoteker melakukan praktik profesi farmasi sekaligus memperdagangkan obat-obatan. (intermezzo: Salah satu keunggulan Apotek Gravita Farma adalah, Apoteker kami selalu ada di tempat untuk menjawab pertanyaan sekaligus memberikan solusi kesehatan bagi pelanggan mengenai obat-obatan.

Sejarah Apotek

220px-galen-_line_engraving-_wellcome_l0012587Dulu, ada seorang tabib Romawi bernama Galen (131-201 CE). Ia menamakan tempatnya memeriksa sebagai latron, dan tempatnya menyimpan obat sebagai “apotheca“, yang secara harfiah berarti gudang. Nama Galen saat ini diabadikan sebagai sebutan ilmu meracik obat secara mekanis, yaitu Galenicals.

Meskipun apotek sebagai nama gudang obat sudah sejak abad ke-2, namun apotek sebagai tempat pembuatan dan penyaluran obat baru ada pada tahun 750 CE, 500 tahun setelah zaman Galen, dan tempatnya di Baghdad, bukan di Romawi. Saat itu, apotek di Baghdad memiliki citra dan status yang amat tinggi dan terkenal. Saking terkenalnya apotek kala itu, tidak sedikit orang yang melengkapi namanya dengan atribut “Ibn-al-attar” yang artinya “anak apoteker”. Salah satu tokoh farmasi ternama adalah Avicenna alias Ibnu Sina, seorang dokter-farmasi dari Persia yg hidup pada tahun 930-1037 CE.

Hingga awal abad ke-13, belum dikenal istilah APOTEKER atau PHARMACIST, dokter dan apoteker masih menjadi satu profesi yg disebut antara lain:  medicineman,  healer,  shaman,  tabib,  sinshe,  dukun dan lain-lain.

Pada tahun 1240, kerajaan Sisilia mengeluarkan undang-undang yg memisahkan antara profesi dokter dan apoteker. Dokter hanya boleh memeriksa pasien, menuliskan resep obat. Kemudian resep dibuatkan obat oleh apoteker, yg dibawa kembali kepada dokter untuk diminumkan kepada pasien. Kemudian pada tahun 1407, terbitlah Pharmacist’s Code of Genoa yg melarang seorang apoteker bekerja sama dengan seorang dokter.

Sejarah Apotek di Indonesia

Apoteker sebagai profesi di Indonesia sebenarnya relatif masih muda dan baru dapat berkembang secara berarti setelah masa kemerdekaan. Pada zaman penjajahan, baik pada masa kolonial Hindia Belanda maupun masa pendudukan Jepang, kefarmasian di Indonesia pertumbuhannya sangat lambat, dan profesi ini belum dikenal secara luas oleh masyarakat. Sampai proklamasi kemerdekaan Indonesia, para tenaga farmasi yang ada di Indonesia pada umumnya, masih terdiri dari asisten dari apoteker dengan jumlah yang sangat sedikit dan umumnya berasal dari Denmark, Austria, Jerman dan Belanda.

Tonggak sejarah kefarmasian di Indonesia pada dasarnya diawali dengan pendidikan asisten apoteker pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Pendidikan asisten apoteker dilakukan dengan sistem “magang” di tempat kerjanya, yaitu di apotek oleh apoteker yang mengelola dan memimpin sebuah apotek. Setelah calon asisten apoteker telah bekerja dalam jangka waktu tertentu di apotek dan dianggap memenuhi syarat, maka diadakan ujian pengakuan yang diselenggarkan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Menurut catatan yang ada, asisten apoteker warga Belanda lulusan Hindia Belanda yang pertama adalah pada tahun 1906 yang diuji di Surabaya. Inlander (pribumi Hindia Belanda) yg tercatat sebagai lulusan pertama pada tahun 1908 yang diuji di Surabaya dan lulusan kedua terjadi pada tahun 1919 yang diuji di Semarang.

Pada masa pendudukan Jepang dirintis pendidikan tinggi farmasi pada tanggal 1 April 1943 dengan nama Yakugaku, sebagai bagian dari Jakarta Ika Daigaku. Pada tahun 1944 Yakugaku diubah menjadi Yaku Daigaku. Selanjutnya pada tahun 1944, pemerintah pendudukan Jepang membuka pendidikan asisten apoteker dengan masa pendidikan selama 8 bulan dan siswa berasal dari lulusan SMP. Sampai Agustus 1945, telah dihasilkan dua angkatan dengan jumlah yang sangat sedikit. Setelah diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia, pendidikan tinggi farmasi ini lantas bubar dan segenap siswanya ikut berjuang.

Pada masa perang kemerdekaan, kefarmasian di Indonesia mencatat 2 peristiwa bersejarah yang sangat berarti, yakni:

  1. 27 September 1946 dibuka Perguruan Tinggi Ahli Obat di Klaten, Jawa Tengah, yang kemudian menjadi Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM).
  2. 1 Agustus 1947 di Bandung diresmikan jurusan Farmasi dari Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam Universiteit van Indonesia (UvI) yang kemudian menjadi Departemen Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) sekarang ini.

Untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan akan tenaga madya di bidang farmasi, pada tahun 1950 di Jakarta dibuka sekolah asisten apoteker negeri yang pertama, dengan jangka waktu pendidikan selama dua tahun. Lulusan angkatan pertama sekolah asisten apoteker ini tercatat sekitar 30 orang. Pada tanggal 5 September 1953 Bagian Farmasi Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi dan Farmasi UGM untuk pertama kali menghasilkan 2 orang apoteker. Sekitar satu setengah tahun kemudian Bagian Farmasi Institut Teknologi Bandung menghasilkan apoteker pertama pada tanggal 2 April 1955.

Secara prinsip, sebuah apotek berasosiasi lekat dengan apoteker-nya, seperti halnya profesi-profesi pengacara/advokat, notaris, dokter. Jadi yg ditonjolkan adalah nama si apoteker, bukan nama dagang/merk apoteknya. Misalnya, sebuah apotek yg dipimpin oleh seorang apoteker bernama Mulyadi, maka apotek tersebut boleh dinamai Apotek Mulyadi.

Namun pada kenyataannya saat ini, apotek lebih menonjol nama dagang/merk apoteknya, bahkan sering kali nama apotekernya hanya ditulis di papan nama di dalam gedung, bukan di papan nama di muka gedung. Bisa jadi memang si apotek tidak memiliki apoteker tetap, kadang hanya ada 1-2 orang asisten apoteker saja, sementara apoteker-nya sendiri berpraktik di banyak tempat.

gravita

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s